Apakah Aqiqah Dilaksanakan Pada Hari Ketujuh & Bid’ah-bid’ah Pada Malam dan Hari Ketujuh

A. Aqiqah Dilaksanakan Pada Hari Ketujuh

Para ulama berpendapat dan sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ketujuh dari hari kelahirannya. Pendapat dan kesepakatan tersebut berdasarkan hadist dari Samurah bin Jundab : Dari Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: ‘Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.’ [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’i 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].

Namun mereka berselisih pendapat tentang bolehnya melaksanakan aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudahnya. Diantara para ulama yang berpendapat tentang masalah ini adalah :
  1. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh berkata dalam kitabnya ‘Fathul Bari’ (9/594): ‘Sabda Rasulullah pada perkataan ‘pada hari ketujuh kelahirannya' (hadist dari Samurah bin Jundab ), ini sebagai dalil bagi orang yang berpendapat bahwa waktu aqiqah itu adanya pada hari ketujuh dan orang yang melaksanakannya sebelum hari ketujuh berarti tidak melaksanakan aqiqah tepat pada waktunya. bahwasannya syariat aqiqah akan gugur setelah lewat hari ketujuh. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Beliau berkata: ‘Kalau bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya.’
  2. Sebagian membolehkan melaksanakannya sebelum hari ketujuh. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya ‘Tuhfatul Maudud’ hal.35.
  3. Sebagian lagi berpendapat boleh dilaksanakan setelah hari ketujuh. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Hazm dalam kitabnya ‘al-Muhalla’ 7/527.
  4. Sebagian ulama lainnya membatasi waktu pada hari ketujuh dari hari kelahirannya.

Jika tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh maka boleh pada hari ke-14, jika tidak bisa boleh dikerjakan pada hari ke-21. Berdalil dari riwayat Thabrani dalm kitab ‘As-Shagir’ (1/256) dari Ismail bin Muslim dari Qatadah dari Abdullah bin Buraidah: ‘Kurban untuk pelaksanaan aqiqah, dilaksanakan pada hari ketujuh atau hari ke-14 atau hari ke-21.’

Namun riwayat diatas lemah, tidak boleh dijadikan dalil. Sebagaimana penjelasan Abu Muhammah ‘ishom Bin Mar’i, Penulis kitab ahkamul ‘aqiqah, mengatakan bahwa: ‘Dia (Ismail) seorang rawi yang lemah karena buruk hafalannya, seperti dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam ‘Fathul Bari’ (9/594).’ Dan dijelaskan pula tentang kedhaifannya bahkan hadist ini mungkar dan mudraj]. Dari perbedaan pendapat diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendapat yang utama adalah pendapat dimana waktu pelaksanaan aqiqah adalah pada hari ketujuh, tidak sebelumnya dan tidak juga sesudahnya. Perkara ini disebabkan lemahnya hadis-hadis akan sunahnya aqiqah setelah hari ketujuh atau sebelumnya. Seorang muslim sepatutnya mengaqiqahkan bayinya pada hari ketujuh, jika tidak mampu melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh, maka terlepaslah kewajibannya. Tidak ada dosa baginya, karena hukum aqiqah itu sendiri adalah sunah, dan dalil-dalil yang berkenaan aqiqah sebelum dan sesudah hari ketujuh adalah lemah. Namun jika ada juga yang melaksanakan aqiqah sebelum atau sesudah hari ketujuh, karena berpegang pada pendapat ulama, maka sepatutnya kita sampaikan perkara ini. Jika mereka menerima, alhamdulillah. Jika mereka menolak dan tetap melaksanakan aqiqah sebelum atau sesudah hari ke tujuh, disebabkan itulah ilmu dan keyakinan mereka, tanpa ada niat untuk menolak kebenaran, maka cukuplah kita berdoa kebaikan untuk mereka. Untuk perkara seperti ini, semoga Allah memafkan mereka, karena mereka melakukan suatu amalan diluar pengetahuan mereka, pada pandangan saya mereka tidaklah berdosa, karena perkara ini adalah masalah fiqhiyah dalam bab furu’ atau cabang, bukan masalah akidah. Untuk kita saling bersikap hikmah adalah sangat diperlukan.

B. Bid’ah-bid’ah Pada Malam dan Hari Ketujuh
  1. Mendatangkan cincin pada malam hari ketujuh dan diletakkan di sisi kepala bayi. Juga lembaran kertas, tempat tinta dan pena. Dan masih banyak benda yang lain lagi. Maka pada pagi harinya, dibagi-bagilah benda-benda yang tadi dikumpulkan di sisi kepalanya. Mereka meyakini bahwasanya hal itu merupakan barakah bagi orang yang mengmbilnya. Dan bahwasanya benda-benda itu berkhasiat untuk menghilangkan sakit kepala. Dengan alasan bahwa para malaikat akan menulis dengan tinta dan pena tersebut tentang apa yang terjadi sepanjang umur bayi itu. (Lihat Al-Madkhal 3/390)
  2. Menghias teko pada malam maupun hari ketujuh dengan berbagai perhiasan dan wewangian, menaburkan garam dan menyalakan lilin serta menabuh lesung atau yang semisalnya untuk mengiringi lantunan kalimat-kalimat yang sudah ma’ruf. Juga mengalungkan biji-bijian serta garam di leher bayi tersebut. (Lihat Al-Ibda’ – 440) 
  3. Menulisi pembalut (popok) bayi dengan minyak za’faran dengan tulisan surat Yasin atau yang lain dari ayat-ayat Al-Qur’an, lalu dibalutkan kepada bayi tersebut pada hari ketujuh. (Lihat Al-Madkhal 3/290-291)
  4. Membuat zulabiyah atau membelinya dan membeli apa yang bisa dimakan bersamanya yang harganya adalah kelipatan dari apa yang mereka perbuat di waktu aqiqah yang syar’i. Dan mereka melakukan hal itu pada hari kedua kelahiran. (Lihat sumber yang lalu)
  5. Membuat ‘ashidah dan membeli apa yang bisa dimakan bersamanya, kalu dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangga maupun orang-orang yang dikenal. (Lihat sumber yang lalu)
  6. Memberikan aqiqah kepada orang yang mengerok bulunya, lalu memberikan kulitnya, kepalanya dan kaki-kakinya kepada pekerja yang menanganinya. (Lihat sumber yang lalu)
  7. Tidak melakukan aqiqah, tetapi justru sibuk dengan sembelihan kepada para wali dan kuburan-kuburan.

Demikian artikel tentang seputar info aqiqah ini somoga bermanfaat.


Tag : Tips
Back To Top